loading...

Wahbanget.com – Tahun baru islam menjadi kebanggan tersendiri bagi umat muslim diseluruh dunia, khususnya Indonesia sebagai negara dengan populasi muslim paling banyak didunia. Di Indonesia sendiri umat islam sangat banyak akan perbedaan budaya dan tradisinya.

Maka dari itu, tak heran kalau di negara tercinta ini masih terdapat budaya muslim yang ke kuno-kuno-an atau ada unsur gaib. Karena, dulunya penyebaran agama islam di Indonesia salah satunya ada yang menggunakan metode akulturasi yaitu pencampuran dua budaya tanpa menghilangkan budaya aslinya.

Dalam menyambut tahun baru islam, banyak daerah yang menyambutnya dengan tradisi beragam dan beberapa kegiatan dengan maksud untuk menanamkan makna tahun baru islam yang sesungguhnya kepada masyarakat setempat.

Dari sekian banyak tradisi di Indonesia, Saya hanya merangkumnya 5 saja karena keterbatasan informasi yang didapat. Untuk itu, jika kalian ingin tau beberapa tradisi penyambutan tahun baru islam di Indonesia, kalian bisa simak ulasan dibawah ini.

5 Tradisi Unik Perayaan Tahun Baru Islam Di Indonesia

Tradisi Bubur Suro, Di Jawa Barat (Sundanese)

Tradisi Bubur Suro dalam menyambut tahun baru islam
Tradisi Bubur Suro di Jawa Barat | Via mutakhorij-assunniyyah.blogspot.com

Tradisi ini suka admin rasakan, karena kebetulan Saya bertempat tinggal di wilayah ciamis, jawa barat. Tradisi ini banyak dilakukkan oleh warga yang bertempat tinggal di Jawa Barat dalam rangka menyambut tahun baru islam 1 Muharram.

Tradisi ini juga dilakukkan sebagai bentuk peringatan atas wafatnya cucu Nabi Muhammad di medan peperangan.

Baca Juga: 6 Fakta Menarik Ketika Musim Hujan Di Jepang

Pada pagi hari tepatnya pada tanggal 10 muharram, beberapa rumah penduduk suka menyiapkan bubur merah/coklat dan bubur putih yang disajikan secara terpisah yang dikenal dengan sebutan bubur suro. Terus, bubur ini nantinya akan dibawa ke masjid terdekat dengan beberapa makanan lainnya.

Peringatan tahun baru Hijriyah yang dilakukan di sejumlah daerah tersebut memang tidak memiliki ketentuan yang tertulis dalam Al Quran ataupun Hadits.

Namun, sah-sah saja bagi siapa daja yang ingin ikut meramaikannya asalkan tidak meyakininya. Sehingga tidak menjadikan untuk mengikuti ritual budaya tersebut.

loading...